← Semua berita

Perihal Penangguhan Kongres Internasional; Beberapa Implikasi dan Pandangan

Reporter: Muhammad Ichsan | Editor: Asdimansyah M.

KAIRO— Setelah sebe­lum­nya ditan­gguh­kan pada Ahad (21/09), Kongres Iner­na­sio­nal PPI Dunia kembali men­ga­lami penan­ggu­han di hari keempat pelak­sa­naan Sim­po­sium Inter­na­sio­nal ke-18, yakni hari Rabu (23/09) pukul 02:16 CLT. Musabab penag­gu­han ter­se­but ber­to­lak dari kondisi kongres yang tidak kon­du­sif serta per­go­la­kan argumen yang cukup intens dari para peserta.

Tidak ter­ca­painya mufakat, ditam­bah dengan impli­kasi di setiap pem­ba­ha­san yang tak kunjung mene­mu­kan solusi akhir­nya ter­paksa ditutup setelah insiden mati lampu terjadi di Balai Bhin­neka Tunggal Ika, KBRI Kairo, Mesir, tempat agenda ter­se­but dilak­sa­na­kan. Keja­dian ini diikuti dengan bebe­rapa dele­gasi yang memu­tus­kan untuk walk out dari sidang ter­se­but, bebe­rapa di anta­ranya adalah Dele­gasi Bapelha PPI Dunia, Dele­gasi PPI Suriah, juga Dele­gasi PPI Swedia.

Mencoba mene­mu­kan titik temu dari setiap impli­kasi yang terjadi, Tim Jur­na­lis Sim­po­sium beru­paya men­gum­pul­kan data dan pan­dan­gan terkait per­ma­sa­la­han ini dengan mewa­wan­ca­rai bebe­rapa pihak terkait. Hasil wawan­cara dalam tulisan ini diha­rap­kan mampu mem­be­ri­kan infor­masi yang memadai juga mewa­kili setiap sudut pandang dalam pelak­sa­naan Sim­po­sium Inter­na­sio­nal ke-18.

1. Untuk Dele­gasi dan Panitia, Catatan dan Pan­dan­gan.

Muham­mad Yas­srul­lah, Koor­di­na­tor Pusat PPI Dunia Swedia yang juga meru­pa­kan dele­gasi PPI Swedia dalam Sim­po­sium yang memu­tus­kan mela­ku­kan walk out, mem­be­ri­kan pan­dan­gan­nya terkait impli­kasi dalam pelak­sa­naan kongres, menu­rut­nya, keti­dak­lan­ca­ran kongres pada dasar­nya dise­bab­kan oleh faktor mis­ko­mu­ni­kasi antara panitia sabagai fasi­li­ta­tor, PPMI Mesir sebagai tuan rumah, Bapelha PPI Dunia, dan Adhoc AD ART.

Mes­ki­pun begitu, ia tetap melon­tar­kan apre­siasi ter­ha­dap panitia yang cukup sigap men­ga­tasi setiap peru­ba­han tiba-tiba yang terjadi, walau­pun memer­lu­kan bebe­rapa pen­ye­suaian, salah satunya adalah ini­sia­tif pihak panitia untuk memin­jam dan terus menam­bah masa pemin­ja­man ruang sidang KBRI yang awalnya dari 10 jam, hingga 12 jam, sampai akhir­nya sidang ter­paksa diskors saat telah lewat 4 jam dari masa pin­ja­man ruangan. Hal ini men­yan­gkut durasi waktu kongres dan setiap pem­ba­ha­san yang pada dasar­nya sudah mele­wati batas waktu yang diten­tu­kan oleh panitia di awal.

Di sisi lain, isu keter­lam­ba­tan juga menjadi per­ha­tian Yassir, ia mene­kan­kan kembali perihal faktor keti­dak­te­pa­tan waktu sebagai musabab lainnya dan ber­ha­rap setiap peserta dan pihak yang terkait dengan agenda dapat lebih men­gop­ti­mal­kan kete­pa­tan waktu yang telah dise­pa­kati sebe­lum­nya.

Pan­dan­gan lainnya datang dari Abd. Rohman selaku dele­gasi Bapelha PPI Dunia yang juga memu­tus­kan untuk walk out dari per­si­dan­gan, ter­ha­dap panitia, ia sendiri mene­kan­kan pen­tin­gnya menjaga nuansa emo­sio­nal selama sidang. Di atas pen­ger­tian­nya tentang setiap kendala dan usaha yang telah dilak­sa­na­kan oleh panitia, ia tetap men­ya­yan­gkan kebo­co­ran emo­sio­nal dari pihak terkait yang terjadi di akhir sidang.

“Mau se-chaos apapun kon­di­sinya, mau bagai­mana pun wak­tunya, tolong diper­ta­han­kan secara emo­sio­nal­nya,” ujarnya lewat wawan­cara via telepon bersama Tim Jur­na­lis Sim­po­sium. Di sisi lain, ia juga men­ya­ta­kan per­ha­tian­nya ter­ha­dap panitia. Ia juga menu­tur­kan pen­ger­tian­nya ter­ha­dap panitia yang sudah bekerja secara optimal.

Lebih lanjut, ia pun melon­tar­kan kritik ter­ha­dap dele­gasi perihal opti­ma­li­sasi waktu yang dise­dia­kan panitia terkait durasi pelak­sa­naan kongres. Hal ini men­yan­gkut pen­ggu­naan waktu kongres yang ia rasa tidak lagi efisien dan pro­duk­tif. Ia mene­gas­kan bahwa mes­ki­pun secara struk­tu­ral forum ini meru­pa­kan agenda dele­gasi PPI Dunia, sebagai kaum ter­pe­la­jar, para peserta kongres seha­rus­nya beru­saha untuk patuh dan men­ghar­gai ter­ha­dap setiap aturan kegia­tan yang diten­tu­kan oleh panitia.

2. Kecu­ri­gaan dan Indi­kasi Politik Ego­sen­tris dan Per­seo­ran­gan

Abd. Rohman menam­bah­kan, salah satu faktor keti­dak­kon­du­si­fan kongres bukan hanya beran­gkat dari keti­dak­te­pa­tan waktu, tata kelola agenda, dan opti­ma­li­sasi durasi saja. Menu­rut­nya, salah satu faktor utama tidak pro­duk­tif­nya sidang dise­bab­kan oleh pen­ga­li­ha­ra­han forum dari agenda demok­rasi dan aka­de­mik kepada politik kepen­tin­gan per­seo­ran­gan.

“Ter­da­pat ego­sen­trisme di dalam­nya, dimana (red— forum) memuat bebe­rapa kepen­tin­gan yang harus dikejar. Makanya yang seha­rus­nya kongres selesai di tanggal 21 atau di tanggal 22, maka mun­dur­lah lebih lama,” ujarnya.

Mes­ki­pun menolak men­ye­but­kan iden­ti­tas per­seo­ran­gan ter­se­but, Ia menilai bahwa ada bebe­rapa indi­kasi yang mela­hir­kan kecu­ri­gaan ter­ha­dap ber­ja­lan­nya forum. Bebe­rapa di anta­ranya terjadi di forum pertama yang dia­da­kan pada Ahad (21/09), dimana ada kea­ne­han tentang fokus pem­ba­ha­san ter­ha­dap pasal-pasal yang dinilai tidak terlalu esen­sial. Ter­le­bih lagi, bebe­rapa pasal seha­rus­nya sudah dise­pa­kati bahwa tidak perlu pem­ba­ha­san kembali dan sisa disah­kan.

Indi­ka­tor selan­jut­nya adalah per hari Selasa (22/09), para ketua tim sukses dari bebe­rapa Calon Koor­di­na­tor PPI Dunia men­gun­dur­kan diri, tak hanya itu mun­dur­nya pre­si­dium sidang dari Tim­ten­gka pun menjadi titik tolak dari kecu­ri­gaan yang lahir. Rohman pun tidak memun­gkiri alasan pemun­du­ran ter­se­but demi menjaga kon­du­si­vi­tas antar PPI Dunia, namun waktu yang tiba-tiba dan secara tak langsung ber­te­pa­tan dengan titik kul­mi­nasi kongres dapat menim­bul­kan kecu­ri­gaan dalam sudut pandang politik.

Hal ini mengacu pada pan­dan­gan terkait kesen­ga­jaan pen­gu­lu­ran waktu sidang demi men­ca­pai kepen­tin­gan per­seo­ran­gan. Feno­mena ini pun secara tak langsung menim­bul­kan keru­gian kepada ber­ba­gai pihak, ter­ma­suk peserta kongres, juga panitia pelak­sana. Ia juga menam­bah­kan bahwa indi­kasi-indi­kasi ter­se­but tidak hanya dira­sa­kan oleh dirinya, bebe­rapa teman-teman dele­gasi pun ikut men­ga­mini kecu­ri­gaan yang terjadi selama ber­ja­lan­nya forum. Bebe­rapa indi­kasi di atas juga menjadi faktor utama pen­gam­bi­lan langkah walk out dari dele­gasi Bapelha PPI Dunia ini.

Ia pun ber­ha­rap agar para pelajar, khu­sus­nya yang ter­ma­suk ke dalam jajaran PPI Dunia untuk kembali ke fitrah, fitrah aka­de­mik yang men­jun­jung tinggi demok­rasi dan nuansa pen­di­di­kan yang tegas dan jujur, layak­nya sebagai insan aka­de­mis.

“Bung Hatta sudah men­ga­ta­kan bahwa kita ini adalah aset bangsa. Kalau misal­kan aset ban­gsanya seperti ini, mau seperti apa bangsa di masa depan?” ujarnya.

Sebagai penutup, ia menu­tur­kan hara­pan­nya untuk per­he­la­tan Sim­po­sium ke depan­nya agar bisa lebih kon­sep­tual, lebih diper­ha­ti­kan dalam ber­ba­gai aspek, dan dapat menjadi forum inte­lek­tual yang melam­ban­gkan nilai, norma, dan adat istia­dat.

Berita Lainnya

Melihat ke Mana Arah Kongres Internasional PPI Dunia

Pembahasan Anggaran Rumah Tangga (ART) yang sebelumnya tertunda akhirnya rampung disahkan dalam Kongres Internasional PPI Dunia lanjutan pada Jumat (26/09). Kongres kembali dilaksanakan secara daring setelah acara Simposium Internasional selesai, mulai pada pukul 16.00 sampai dengan 21.00 CLT.

Kongres InternasionalPPI DuniaDiaspora

Menjejak Sejarah Mesir Lewat City Tour SI PPI Dunia ke-18

KAIRO— Rangkaian Simposium Internasional PPI Dunia 2026 di Mesir tidak hanya menjadi ruang bagi para delegasi untuk bertukar gagasan dan berdiskusi. Melalui agenda City Tour Cairo yang diadakan pada Rabu (23/9), para peserta diajak menyusuri jejak peradaban Mesir Kuno dengan mengunjungi beberapa destinasi bersejarah, yaitu Piramida Giza dan juga National Museum of Egyptian Civilization (NMEC).