← Semua berita

Prof. Yasser Elshayeb Jawab Implikasi Perihal Digitalisasi Hadis dan Inferioritas AI

Reporter: Muhammad Ichsan | Editor: Muhammad Rizqi Fauzi P.

KAIRO— Per­he­la­tan Sim­po­sium Inter­na­sio­nal ke-18 hari keempat, Selasa (22/09) mem­ba­wa­kan acara Workshop yang ber­fo­kus pada pem­ba­ha­san men­ge­nai peran AI dalam dina­mika pen­ye­li­di­kan dan pene­li­tian aka­de­mik.

Men­gha­dir­kan Prof. Yasser El-Shayeb, Pro­fe­sor Rock Engi­nee­ring Appli­ca­tions to Heri­tage and Archeo­logy Uni­ver­si­tas Amerika, Kairo, pem­ba­ha­san melanda prob­le­ma­tika tentang bagai­mana pen­ggu­naan dan impli­kasi AI dalam men­gu­lik warisan budaya serta mela­ku­kan riset aka­de­mik. Pem­bi­ca­raan kemu­dian men­gun­dang bebe­rapa per­tan­yaan dan diskusi dari dele­gasi yang hadir, di anta­ranya adalah Damar Syah Naufal Asyari, Lc., per­wa­ki­lan dari PPMI Mesir, serta Prety Invit Claudia Menrofa sebagai dele­gasi PPI Serbia.

Per­tan­yaan 1: Damar Syah Naufal Asyari, Lc.

Pada dasar­nya, saya punya kek­ha­wa­ti­ran besar tentang pen­gap­li­ka­sian AI dalam ruang aka­de­mik hadis, khu­sus­nya dalam lingkup pema­ha­man maha­siswa Al-Azhar bahwa AI seha­rus­nya tidak dapat diper­ca­yai, sebab bebe­rapa impli­kasi akan muncul dari AI, di anta­ranya adalah serin­gkali AI men­ya­lah­pa­hami konteks teks Arab Klasik, dan mem­be­ri­kan refe­rensi yang rancu. Lalu bagai­mana pan­dan­gan Anda ter­ha­dap ter­ha­dap pelajar di bidang kami seha­rus­nya men­ggu­na­kan AI seka­li­gus mem­per­tan­ggun­gja­wab­kan­nya?

"Saya juga bisa men­ga­ta­kan bahwa saya memi­liki dilema yang sama ketika kita mem­ba­has warisan budaya, bahwa keban­ya­kan infor­masi yang harus kita ketahui dan percaya tentang hal ter­se­but masih berada dalam buku, sama seperti hadis, isnad, dan sema­cam­nya."

"Masa­lah­nya, bukan hanya ter­ha­dap kamu sebagai pelajar, tapi juga kepada orang-orang yang tidak ahli dalam bidang hadis. Jika kamu tidak tahu tentang hadis dan kamu menan­yai saya, yang akan saya lakukan hanya kembali men­gam­bil han­dphone saya dan men­da­pat­kan bebe­rapa jawaban seder­hana."

"Dan ini ber­ba­haya, mengapa ini ber­ba­haya? Sebab jumlah data dan infor­masi tentang Hadis di ranah daring sangat ter­ba­tas, kembali lagi, sebab keban­ya­kan data dan infor­masi ter­se­but masih berada dalam kitab yang belum ter­di­gi­ta­li­sasi."

"Jadi untuk menan­ggu­langi dilema ter­se­but, menurut saya kita justru harus men­ye­rah kepada fakta bahwa gene­rasi kita dan gene­rasi yang akan datang setelah kita akan sangat ber­gan­tung kepada konten digital. Jadi mungkin, yang harus kita wujud­kan adalah men­di­gi­ta­li­sasi konten-konten ter­se­but, yang telah ter­ve­ri­fi­kasi dengan benar, demi melin­dungi kebe­na­ran­nya tatkala kita mela­ku­kan pene­li­tian."

"Solusi saya selan­jut­nya, yang sebe­nar­nya sedang saya ker­ja­kan juga adalah pen­cip­taan chatbot, sebuah agen AI untuk Hadis, kamu bisa membawa sum­bermu yang ter­per­caya di bidang hadis, baik berupa kitab maupun diser­tasi, lalu letak­kan ke dalam model, lalu dek­la­ra­si­kan model ini beserta sum­ber­nya."

"Ini bisa menjadi proyek yang bisa kamu lak­sa­na­kan ke depan­nya, saat sudah menempu program Ph, D., mungkin. Untuk men­di­gi­ta­li­sasi semua sumber, dan men­cip­ta­kan AI ter­per­caya ber­da­sar pada sumber-sumber ter­se­but yang dapat ditan­yai. Saya pikir akan sangat menak­jub­kan jika hal ini dapat ter­wu­jud."

Per­tan­yaan 2: Prety Invit Claudia Menrofa

"Sebagai maha­siswa dalam fakul­tas yang yang meli­bat­kan banyak teori dan paper, secara pribadi saya sering men­ggu­na­kan AI sebagai –bukan cuma untuk men­du­kung pela­ja­ran– tapi juga untuk men­ger­ja­kan pene­li­tian, men­ga­na­li­sis infor­masi, juga untuk men­gem­ban­gkan argumen aka­de­mik, tapi saat ini saya melihat bahwa ada bebe­rapa tipe kecer­da­san, yakni logical-mat­he­ma­ti­cal dan lin­guis­tic inter­per­so­nal dan emo­sio­nal, per­tan­yaan saya adalah, apakah AI memang memi­liki kemam­puan untuk men­gak­ses setiap area kecer­da­san ini di masa depan? Dan bagai­mana kita menarik garis batas antara men­ggu­na­kan AI sebagai alat dan mem­per­ta­han­kan aspek keu­ni­kan manusia dan pen­ye­li­di­kan sains?"

"Sebe­nar­nya yang ingin saya tegas­kan di sini adalah bahwa AI pada dasar­nya bukan­lah kecer­da­san murni, AI men­ggu­na­kan infor­masi, men­go­lah, dan men­gek­strak infor­masi melalui data­base."

"Seka­rang, apakah kita men­ye­but­nya sebagai kecer­da­san atau bukan? Menurut saya bukan, sebab bukan berarti saya men­ge­ta­hui banyak infor­masi tentang kamu, dan men­ggu­na­kan infor­masi ini lalu saya menjadi cerdas, pada dasar­nya itu han­ya­lah saya bekerja dan men­ggu­na­kan infor­masi."

"Kecer­da­san bagi saya adalah men­cip­ta­kan sesuatu, bukan hanya men­ggu­na­kan yang sudah ada. Sebab jika kita men­ga­ta­kan cerdas adalah men­ge­ta­hui banyak infor­masi, maka kamu akan men­ga­ta­kan bahwa saya lebih cerdas dari kakek saya, sebab kakek saya tidak men­da­pat­kan kuan­ti­tas infor­masi yang sama dengan saya di masa kini. Dia bisa jadi memi­liki ide yang lebih baik dari saya, tapi saya tetap men­da­pat­kan data yang ter­se­dia seka­rang."

"Jadi alasan untuk mem­pro­yek­si­kan hal ini adalah untuk mene­gas­kan bahwa manusia selalu punya cara lain untuk ber­pi­kir, semen­tara AI, atau apapun alat yang kita gunakan ber­pe­ran sebagai partner yang ter­se­dia untuk kita, partner yang ber­tu­gas untuk men­gum­pul­kan ber­ba­gai infor­masi tentang luar angkasa, agama, dan lainnya, ia bukan kecer­da­san murni, ia han­ya­lah data."

Berita Lainnya

Melihat ke Mana Arah Kongres Internasional PPI Dunia

Pembahasan Anggaran Rumah Tangga (ART) yang sebelumnya tertunda akhirnya rampung disahkan dalam Kongres Internasional PPI Dunia lanjutan pada Jumat (26/09). Kongres kembali dilaksanakan secara daring setelah acara Simposium Internasional selesai, mulai pada pukul 16.00 sampai dengan 21.00 CLT.

Kongres InternasionalPPI DuniaDiaspora

Menjejak Sejarah Mesir Lewat City Tour SI PPI Dunia ke-18

KAIRO— Rangkaian Simposium Internasional PPI Dunia 2026 di Mesir tidak hanya menjadi ruang bagi para delegasi untuk bertukar gagasan dan berdiskusi. Melalui agenda City Tour Cairo yang diadakan pada Rabu (23/9), para peserta diajak menyusuri jejak peradaban Mesir Kuno dengan mengunjungi beberapa destinasi bersejarah, yaitu Piramida Giza dan juga National Museum of Egyptian Civilization (NMEC).