← All news

Kongres Internasional Ditangguhkan Lagi, Titik Terang Kembali Harus Menunggu

Reporter: Muhammad Ichsan | Editor: Asdimansyah M.

Ditangguhkan Lagi, Titik Terang Kongres Internasional Kembali Harus Menunggu Lanjutan Kongres Internasional PPI Dunia yang diadakan pada hari Jumat (27/09) kembali mengalami penangguhan. Waktu yang disepakati oleh forum untuk keberlanjutan Kongres adalah Minggu (04/10). Pembahasan utama dalam Kongres kali ini berfokus pada beberapa hal, di antaranya adalah peninjauan kembali Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) PPI Dunia, pendanaan Simposium Internasional, dan beberapa permasalahan lainnya.

1. Peninjauan Kembali LPJ PPI Dunia, serta Implikasi Administrasi dan Keuangan

Dalam notulensi Kongres per hari Jumat (27/09), dijelaskan terkait adanya pengajuan untuk peninjauan kembali Laporan Pertanggungjawaban PPI Dunia. Hal ini disebabkan adanya dugaan kecacatan keuangan dalam LPJ yang dipaparkan. Pengajuan ini, salah satunya diinisiasi oleh Hasrinando, selaku perwakilan dari Persatuan Pelajar Indonesia di Korea Selatan (PERPIKA).

Lebih lanjut, Luticia Pitna, perwakilan PPI Malaysia juga menyinggung perihal kegiatan Sekolah Diplomasi yang mengalami kendala logistik. Dalam pembahasan tersebut dijelaskan bahwa kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan telah lebih dahulu ditalangi menggunakan dana pribadi, disebabkan PPI Dunia tidak memiliki dana. Ia juga menegaskan bahwa seluruh persoalan terkait hal-hal yang memerlukan peninjauan ulang harus dirampungkan terlebih dahulu sebelum forum melanjutkan ke agenda berikutnya. Menurutnya, apabila terdapat peminjaman dana yang terjadi, seharusnya ada bukti tertulis dan administrasi yang jelas.

Adapun terkait peninjauan kembali LPJ, Koordinator PPI Dunia, Andika Ibrahim Nasution menegaskan bahwa pada dasarnya tidak lagi diperlukan peninjauan lebih lanjut, dikarenakan pembahasan terkait LPJ sebenarnya sudah selesai. Hal yang sama turut diutarakan oleh Doki selaku Bapelha PPI Dunia dengan alasan yang sama.

Perdebatan ini kemudian berujung pada pengambilan keputusan Presidium Sidang juga perwakilan dari PPI Dunia Tiongkok. Keputusan tersebut mengarah pada tuntutan penyelesaian LPJ yang sebelumnya diterima bersyarat hingga Sabtu (03/10). Hal ini juga termasuk penuntasan implikasi berupa aduan-aduan kepada Dewan Pengawas.

2. Implikasi Pendanaan Simposium

Ketua Panitia Simposium Internasional ke-18, Luqman Perdana Putra menjelaskan bahwa pendanaan Simposium melibatkan sponsorship dengan nilai sekitar Rp. 800.000.000, 00, namun panitia sendiri hanya menerima sekitar setengah dari jumlah tersebut. Sebagai contoh, Luqman memaparkan bahwa terdapat dana sponsorship dari Indomie sebesar Rp. 300.000.000, 00 yang harus dibagi dua dengan PPI Dunia sebab terdapat sejumlah kebutuhan yang harus di-reimburse.

Adapun Andika menjelaskan bahwa seluruh sponsorship pada dasarnya diperoleh dengan proses pencarian bersama di Jakarta, dimana sejumlah pengeluaran yang terjadi saat itu diaplikasikan dengan menggunakan rekening pribadi. Adapun terkait dana sebesar Rp. 300.000.000, 00 tersebut, Andika memaparkan alokasinya yang akan mengarah pada kegiatan PPI Dunia Mengabdi. Ia pun mempersilakan jikalau persoalan tersebut hendak dilaporkan dan menegaskan transparansi penggunaannya.

Lebih lanjut, Andika juga mengklaim bahwa sekitar 98% dana sponsorship diperoleh melalui upaya yang dilakukan olehnya dan menyampaikan keberatan sebab menurutnya, Luqman tidak menyebutkan apresiasinya terhadap upaya tersebut. Terakhir, ia menambahkan bahwa dalam mekanisme PPI Dunia, diharuskan adanya Surat Pertanggungjawaban (SPJ) yang perlu disiapkan sebelum Rapat Internasional nantinya.

3. Dinamika Kongres serta Tanggapan dari Beberapa Pihak

Perwakilan PPI Polandia menyampaikan pandangannya bahwa forum yang sedang berlangsung saat itu sudah sampai pada kondisi tidak sehat dan kondusif. Menurutnya, persilangan pendapat dalam sidang memang biasa dan sudah seharusnya terjadi, namun dalam kondisi kali ini, dinamika persilangan tersebut sudah melewati batas kewajaran. Ia juga menekankan bahwa setiap pihak yang menyampaikan tuduhan atau dakwaan harus membawa bukti yang konkret.

Pandangan ini diikuti oleh suara lainnya dari Perwakilan PPI Ceko yang menyatakan bahwa ia sendiri, selaku salah satu perwakilan dari PPI Negara baru mengetahui perihal persoalan dana Simposium Internasional. Menurutnya, seharusnya terdapat koordinasi yang baik antara pihak Panitia Penyelenggara Simposium Internasional dan pihak PPI Dunia untuk mencegah persoalan ini terjadi. Lebih lanjut, ia juga mengkritisi pernyataan Andika selaku Koordinator PPI Dunia terkait apresiasi, sebab dalam konteks organisasi tidak semestinya seseorang mengharapkan ucapan terima kasih atas bantuan yang ia berikan, sebab bantuan tersebut pada dasarnya harus dilakukan dengan tulus.

Menanggapi kritik tersebut, Andika menjelaskan bahwa ia tidak membutuhkan ucapan terima kasih, namun menuntut pengertian, dimana panitia seharusnya memahami proses dan upaya yang telah dilakukan, khususnya oleh dirinya dan Luqman dalam membantu pelaksanaan Simposium Internasional.

Lebih lanjut, R. Dharmawan selaku Dewan Pengawas turut menyatakan pandangannya dalam sesi wawancara bersama Tim Jurnalis Simposium. Selain mengamini kendala efektivitas dalam kongres yang sudah mengalami beberapa kali penundaan, ia menyampaikan bahwa titik evaluasi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana setiap persilangan pendapat dalam forum dikelola dengan mekanisme yang tepat untuk menyelesaikan setiap pembahasan dalam waktu yang tersedia.

4. Problematika Politik Perseorangan; Pandangan Dewas

R. Dharmawan, atau yang lebih akrab disapa Ido juga menjawab fenomena kecurigaan terkait adanya pergerakan politik perseorangan yang menjadi salah satu faktor penguluran waktu sidang. Ia menilai bahwa implikasi sidang tidak bisa hanya dikaitkan dengan satu faktor atau satu kelompok, sebab banyak faktor lain yang dapat dideteksi seperti banyaknya pasal-pasal dan ayat baru, narasi-narasi yang multitafsir, panjangnya pembahasan substansi, dan sebagainya.

Terkait indikasi politik perseorangan itu sendiri, Dewas memilih untuk berhati-hati dalam mencermati setiap informasi agar tidak serta-merta menjadikan persepsi sebagai dasar pengambilan kesimpulan. Di sisi lain, ia pun mengamini bahwa dinamika politik tentu tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari proses pemilihan, namun yang harus menjadi objek perhatian adalah bagaimana dinamika tersebut tetap berada dalam koridor aturan dan tidak mengganggu hak peserta Kongres.

Tidak berhenti sampai di sana, ia juga menegaskan bahwa jika terdapat laporan lebih lanjut mengenai pelanggaran, intimidasi, intervensi, atau tindakan lain yang bertentangan dengan aturan, maka mekanismenya adalah melaporkan hal tersebut melalui jalur yang telah disediakan oleh Dewas, untuk kemudian diverifikasi dan ditindaklanjuti.

5. Harapan Menuju Titik Terang

Di tengah dinamika Kongres yang terus berlanjut namun seakan tak menemui titik terangnya sendiri, Ido kembali menegaskan harapannya pada keberlangsungan juga penyelesaian setiap implikasi yang terdapat dalam Kongres tersebut. Ia berharap agar Kongres dapat segera diselesaikan dengan tertib, demokratis, dan sesuai aturan. Ia juga mengharapkan agar setiap pihak mampu menurunkan ego sektoral dan kepentingan masing-masing.

Terakhir, ia menekankan bahwa dalam dinamika Kongres, yang harus menjadi pemenang bukanlah individu, kelompok, ataupun kepentingan tertentu, melainkan proses demokrasi organisasi serta keberlanjutan PPI Dunia yang lebih baik ke depannya.

More News

Melihat ke Mana Arah Kongres Internasional PPI Dunia

Pembahasan Anggaran Rumah Tangga (ART) yang sebelumnya tertunda akhirnya rampung disahkan dalam Kongres Internasional PPI Dunia lanjutan pada Jumat (26/09). Kongres kembali dilaksanakan secara daring setelah acara Simposium Internasional selesai, mulai pada pukul 16.00 sampai dengan 21.00 CLT.

Kongres InternasionalPPI DuniaDiaspora

Menjejak Sejarah Mesir Lewat City Tour SI PPI Dunia ke-18

KAIRO— Rangkaian Simposium Internasional PPI Dunia 2026 di Mesir tidak hanya menjadi ruang bagi para delegasi untuk bertukar gagasan dan berdiskusi. Melalui agenda City Tour Cairo yang diadakan pada Rabu (23/9), para peserta diajak menyusuri jejak peradaban Mesir Kuno dengan mengunjungi beberapa destinasi bersejarah, yaitu Piramida Giza dan juga National Museum of Egyptian Civilization (NMEC).