Melihat ke Mana Arah Kongres Internasional PPI Dunia

Pembahasan Anggaran Rumah Tangga (ART) yang sebelumnya tertunda akhirnya rampung disahkan dalam Kongres Internasional PPI Dunia lanjutan pada Jumat (25/09). Kongres kembali dilaksanakan secara daring setelah acara Simposium Internasional selesai, mulai pada pukul 16.00 sampai dengan 21.00 CLT. Salah satu fokus utama forum itu ada pada bab terakhir pembahasan ART yang menggantung di pertemuan sebelumnya.
Beberapa saran masuk guna memperjelas waktu kapan ART mulai berlaku dan ART sebelumnya dicabut, khususnya pada bab XIII, pasal 46, ayat (2) dan (4) yang membahas tentang ketentuan penutup. Diskusi juga menyentuh pembahasan tentang perlunya introspeksi diri dalam organisasi dan mengatasi kekhawatiran tentang menjaga persatuan dalam aturan serta prosedur organisasi.
Setelah melalui diskusi panjang, pada pukul 23.42 menyesuaikan waktu Indonesia bagian barat (WIB) dan dengan dipimpin oleh Gregorius Reunard Sujanto (PPI Tiongkok), Silmy Kaffah (PPI Suriah), dan Rofiatul Ngadawiyah (PPI Serbia), pembahasan AD/ART disahkan dan Pleno 4 dinyatakan selesai. Meskipun Pleno 5 kembali berakhir dengan penangguhan karena kuorum tidak mencukupi—juga melihat pembahasan seterusnya berkaitan Pemilihan Koordinator PPI Dunia 2026/2027, namun forum tersebut terbilang lebih kondusif jika dibandingkan dengan Kongres yang dilaksanakan pada Rabu (23/09).
Kongres yang dilaksanakan di Ruang Sidang KBRI Kairo sebelumnya—dari awal sampai akhir, hanya berkutat pada pembahasan ART. Padahal ketika membuka Kongres, forum sepakat menyelesaikan pembahasan ART malam itu juga, dan panitia sudah menjadwalkan agar seluruh rangkaian Kongres dapat langsung diselesaikan dalam pertemuan itu. Namun target yang semula dijadwalkan dapat selesai pada pukul 22.00, berkali-kali molor hingga pukul 02.16 CLT dini hari. Target tetap tak tercapai, kongres ditangguhkan sebelum ART disepakati sepenuhnya, diperparah dengan drama padamnya lampu ruangan yang membuat kondusivitas forum, baik dari sisi delegasi maupun panitia, semakin menurun.
Menurut Presiden PPMI Mesir, Wildan Akbar Fathurrahman—sebagaimana yang ia konfirmasi dari PPI Turki selaku tuan rumah Simposium Internasional tahun sebelumnya—Kongres memang sudah sewajarnya berlangsung lama, namun dalam konteks Kongres kali ini sudah melebihi batas wajar. “Karena kan sampai simposium ini selesai, ART-nya belum selesai, ketuanya (red—Koordinator PPI Dunia) belum terpilih, tuan rumah simposium selanjutnya juga belum terpilih,” ungkapnya saat diwawancarai langsung oleh Tim Jurnalis Simposium.
Forum yang tak kondusif itu memicu perdebatan intens antardelegasi, beberapa delegasi memilih walk out, dan luapan emosi dari pihak panitia. Abd. Rohman, delegasi Bapelha PPI Dunia, bahkan menyebut adanya indikasi kepentingan perseorangan yang sengaja memperlambat jalannya Kongres selama ini, sebagaimana yang disampaikannya dalam wawancara telepon bersama Tim Jurnalis Simposium.
Di luar meja sidang, ancaman PPI Belanda untuk menarik diri dari PPI Dunia turut menambah ketegangan. Isu ini mencuat ketika seorang delegasi mempertanyakan kembali cara PPI Dunia selama ini merangkul PPI Negara. Pasalnya, jika sikap PPI Belanda tak segera direspons, dikhawatirkan menimbulkan efek domino bagi PPI Negara lain.
Dalam surat pernyataan sikap yang diunggah lewat akun instagram @ppibelanda pada 21 September, PPI Belanda menilai sejumlah ketentuan dalam AD/ART berpotensi menempatkan PPI Dunia pada posisi lebih dominan dibanding PPI Negara. Sedangkan hal ini bertentangan dengan prinsip historisnya, dimana PPI Dunia dibentuk oleh PPI Negara, dan bukan sebaliknya. Karena itu, PPI Dunia semestinya berkedudukan sebagai "organisasi yang memperoleh mandat dari PPI Negara sebagai anggota konstituennya, dan bukan sebagai jenjang organisasi yang secara hierarkis berkedudukan di atas PPI Negara."
Di akhir surat itu, PPI Belanda mengaku akan mengambil langkah tegas untuk mengakhiri keanggotaannya apabila kongres hanya menghasilkan AD/ART yang secara substantif tetap mempertahankan tata kelola top-down, minim ruang aspirasi anggota, dan tidak mencerminkan PPI Dunia sebagai sistem pendukung bagi PPI Negara.
Menanggapi kekisruhan itu, Wildan Akbar yang juga mewakili tuan rumah acara mengatakan, bahwa panitia, khususnya Divisi Persidangan, sudah menyiapkan berbagai hal untuk memfasilitasi jalannya kongres, meski tak menampik adanya keterbatasan tempat dan waktu. Ia menegaskan konflik yang terjadi bukan berasal dari panitia. "Sebenarnya konflik yang terjadi, bisa dibilang, kayaknya bukan salah panitia, justru antara delegasi," ujarnya, sambil menambahkan bahwa panitia hanya bertindak sebagai fasilitator dan tidak ikut campur dalam proses diskusi persidangan. PPMI Mesir sendiri telah mengeluarkan surat pernyataan netral selaku tuan rumah Simposium Internasional ini.
Lebih lanjut Wildan juga mengaku kecewa dengan ketidakkondusifan yang terjadi malam itu, mengingat setiap masalah berpotensi berdampak luas. "Kita juga enggak mau nama kita tercoreng sebagai PPMI Mesir. Jadi jangan kambinghitamkan kita sebagai tuan rumah," tegasnya, sembari mengaku tak mengetahui awal mula konflik tersebut.
Sementara itu, Luqman Perdana Putra, Ketua Panitia Pelaksana Simposium Internasional PPI Dunia 2026, tetap menyampaikan permintaan maaf atas ketidakkondusifan yang terjadi. Ia mengakui cara penyampaian pesannya yang cukup emosional kepada forum semestinya bisa dilakukan dengan cara yang lebih baik. Namun, ia menegaskan sikap personalnya itu harus dipisahkan dari kinerja panitia yang telah berusaha memfasilitasi kongres sebaik mungkin.
"Jadwal telah disusun, surat dan informasi telah disampaikan, LO telah melakukan komunikasi, dan teman-teman panitia hadir berjam-jam sebelum forum dimulai untuk mempersiapkan kebutuhan persidangan," ujarnya.
Luqman juga menyoroti posisi panitia dalam dinamika persidangan yang cukup sensitif menjelang pemilihan Koordinator PPI Dunia yang baru. "Panitia adalah fasilitator kongres, bukan aktor dalam kepentingan politik maupun dinamika pemilihan PPI Dunia. Tugas kami adalah menyediakan ruang dan kebutuhan agar forum dapat berjalan," katanya.
Ia menambahkan, segala keputusan dalam kongres merupakan tanggung jawab forum itu sendiri, dan berharap panitia tidak ditarik ke dalam pertentangan kepentingan antarpihak, sebagaimana panitia juga harus menjaga diri agar tidak terseret ke dalam kepentingan pihak mana pun.
Di akhir wawancara, Wildan mengatakan bahwa setelah berakhirnya Simposium Internasional, ada dua kemungkinan yang sedang menunggu: kemungkinan baiknya adalah masalah ini akan perlahan mereda atau—jika memang PPI Dunia dirasa belum menjadi organisasi yang baik untuk memimpin PPI Negara lainnya—kemungkinan buruknya adalah kasus yang sama dengan PPI Belanda akan kembali terjadi.
Ia juga berharap agar PPI Dunia ke depannya senantiasa menjadi badan perhimpunan yang mampu mewadahi aspirasi setiap PPI Negara. “Kita selalu mendoakan bahwa PPID ini perlu berbenah, perlu memperbaiki juga, dan perlu sama-sama, kalau bisa ya, dihilangkan kepentingan masing-masing, ya, gitu. Cuman saya enggak yakin bisa. Ya proses lah, gitu. Proses pendewasaan, semoga tidak ada kepentingan pribadi yang mau mengacak-acak. PPID menjadi organisasi yang sehat, berguna, berjasa, dan bermanfaat buat sesama”.
Lebih lanjut, Kongres yang diadakan pada Jumat kemarin agaknya menjadi penanda adanya evaluasi, baik dari panitia maupun delegasi sebagai peserta forum. Hal itu terlihat dari proses diskusi yang terus berjalan dan tidak berkutat hanya pada satu bahasan. Adapun Kongres berikutnya akan dilanjutkan pada tanggal 27 September mendatang.
Tim Jurnalis Simposium juga telah mencoba untuk menghubungi beberapa pihak lainnya agar memberikan tanggapan terkait polemik yang terjadi, seperti pihak dari delegasi PPI Rusia dan Tim Adhoc Pemiilihan Raya (Pemira) PPI Dunia 2026. Namun sampai berita ini diunggah, kami belum mendapatkan jawaban.
Adapun Andika Ibrahim Nasution selaku Koordinator PPI Dunia 2025/2026, melalui pesan WhatsApp, mengaku baru bisa memberikan tanggapan setelah Kongres selesai, dengan mempertimbangkan statusnya sebagai calon Koordinator PPI Dunia 2026/2027. Pernyataannya ia takutkan dapat berbau kampanye.


